Sunday, August 24, 2014
Senjata Terampuh Kaum Muslimin
Allah memerintahkan kita untuk menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong kita. Allah tidak memerintahkan kita untuk bersedih, marah, ataupun menyerah.
Dengan sabar kita bisa berfikir jernih mengevaluasi kelemahan, mengapresiasi kekuatan, membuat strategi yang matang.
Dengan sholat kita memohon pertolongan Allah, memahami bahwa tiada daya upaya selain atas izin Nya, dan berserah diri pada kehendak Allah semata.
Sabar dan sholat adalah senjata terampuh kaum muslimin untuk keluar dari kemelut dunia menuju kemenangan hakiki.
Friday, April 13, 2012
Editor Choice
Foto Monkey on the Cliff berhasil menjadi editor choice di dreamstime. Dalam foto ini, tampak seekor monyet merenung sendirian dipinggirang jurang, memandangi laut lepas. Foto ini diambil di uluwatu Bali saat mudik taun 2009 bersama gerombolan FN.
Berikut ini link ke foto tesebut...
Tuesday, April 10, 2012
Murid Baru Ummi
Sekitar 3 minggu yang lalu, ummi punya murid baru di kelas ngajinya. Beda dengan murid2 lain yang rata2 usianya sekitar 5 sampe 10 tahun, 2 murid baru ini berusia 23 tahun. Tadinya ummi kira anak itu adalah guru baru yang ditugaskan untuk membantu ummi, ternyata dia datang untuk belajar ngaji. Setelah kelas ngaji selesai, ummi ngobrol sama si anak baru. Ternyata dia seorang mualaf. Namanya Zaina, nama aslinya Jainnine, orang bule aseli.
Kemarin Zaina datang ke rumah atas undangan Ummi untuk lunch di rumah. Sejak pertemuan di kelas, Zaina memang makin akrab sama ummi. Mereka pun janjian untuk bikin kelas jarak jauh dengan menggunakan skype agar Zaina lebih cepat progress ngajinya. Tadi jam 9pm kelas pertama dimulai. Ini kali pertama lihat ummi ngajar ngaji. Pinter ummi ngajarinnya. Sabar dan penuh semangat. Karena yang diajarin orang bule, jadinya ummi sekalian belajar memperlancar bahasa inggrisnya. Jadi sama2 belajar.
Baru 3 minggu belajar ngaji, Zaina sudah komplit chapter 1. Dia semangat banget belajar ngaji. Klop banget sama ummi, gurunya semangat ngajar, muridnya semangat belajar. Semoga Allah memberi ilmu yang bermanfaat serta kebaikan dunia akhirat bagi keduanya. Amin.
Cenat Cenut Masalah Bensin
Bensin di Sudbury, atau tepatnya di Ontario, naek terusss... 2 tahun yang lalu harga bensin di kisaran 100 dollar per 100 liter. Sekarang sudah mencapai 140 an. Entah kenapa sejak falls 2010 harga bensin terus melambung dengan drastis.
Bedanya masyarakat di sini sama di Indonesia, mereka ndak ada yang demo menolak kenaikan bensin, walaupun masing2 ngedumel dan ndak ada yang tau pasti kenapa harga bensin sedemikian dahsyatnya. Bedanya lagi kalo di Indonesia, bensin naik akan segera diikuti kenaikan harga barang lainnya. Kalo di sini rasanya sih harga sembako segitu2 aja. Tapi tetep aja kepala cenat cenut lihat bensin yang mahal banget. Kapan ya si sini ada demo bbm...
Samsung tab 10.1: Aplikasi
Kelemahan lain dari tablet android dibandingkan ipad adalah dukungan aplikasi yang tersedia. Tapi setelah browsing sana sini di google play tokonya android, ternyata cukup memuaskan kok. So far semua aplikasi yang dibutuhkan ada di google play. Malah ada juga aplikasi yang ada di android tapi ndak ada di ipad.
Sejak beli tablet 2 hari yang lalu, sudah cukup banyak aplikasi terinstall, mulai dari aplikasi quran, berita, mivo, gps, diary, blogger, netflix, youtube, flickr, banking, file manager, office, etc etc. Malah nemu aplikasi yang bisa streaming dari tablet android ke apple tv. Siiip.
Enaknya lagi di android, user diberi kebebasan mengakses file. Dengan aplikasi file manager, user bisa mengatur file seperti di windows. Satu hal yang tidak diperbolehkan di dunia apple.
Baju Baru si Samsul
Gara2 bestbuy salah pasang harga, si samsul tablet baru dapat baju baru dengan harga miring. Cover asli dari samsung yang mestinya seharga 65, berhasil dibawa pulang dengan hanya membayar 25.. Mantap.
Dibandingkan dengan ipad, tablet2 android kalah bersaing dalam hal kelengkapan aksesoris termasuk cover. Mencari aksesoris ipad jauh lebih mudah daripada tablet. Cover ipad misalkan, sangat banyak tersedia dalam berbagai pillihan bentuk, warna, theme, dan harga. Demikian juga charger, tidak akan kesulitan jika kehilangan charger ipad. Sementara untuk samsung terpaksa beli charger asli keluaran samsung yang harganya lumayan.
Sunday, April 8, 2012
Samsung Tab 10.1: Batre dan Flah
Seharian nonton mivo, youtube, netflix pake samsung tab untuk membuktikan iklan samsung yang mengklaim batrenya tahan sampe 9 jam nonton video nonstop. Hasilnya emang edun bener ketahanan batre tablet ini, bisa sampe 9 jam lebih nonton video. Padahal aplikasi mivo menggunakan flash, tapi ternyata batre samsung tetap bisa tahan 9 jam.
Salah satu keunggulan android dibandingkan IOS nya apple memang dalam hal kemampuan memainkan flash. Menurut Apple, alasan mereka tidak mendukung flash karena memakan batre cukup banyak. Tapi Google cukup bijak dengan menyerahkan keputusan pada users untuk memilih menggunakan flash atau tidak.
Penggunaan flash terasa sangat bermanfaat dengan adanya aplikasi mivo yang menyiarkan tv Indonesia dengan menggunakan flash. Dengan pengorbanan batre yang notabene tidak terlalu berasa untuk samsung tablet, pilihan menggunakan flash jelas lebih baik.
Uhuyyy... Tablet Baru
Akhirnya keturutan juga beli tablet. Tablet ini sudah sekian lama nongkrong di iklan kijiji. Orangnya di telpon, di email ndak ada jawaban. Setelah seminggu lebih akhirnya doi bales email juga. Jadilah kemaren ketemuan. Setelah dilihat2 oke juga nih tablet. Setelah tawar menawar akhirnya tablet pun berpindah tangan.
Bukan umi namanya kalo ndak bisa nawar dengan harga miring. Dari harga 350 ditawar jatuhnya 290. Dibandingkan dengan harga toko yang 679 plus tax, jelas lumayan banget. Tadinya sempat bingung mau ipad, asus eee pad, atau samsung. Tergiur harga yang miring banget di kijiji, akhirnya pilihan jatuh samsung tab10.1 4G. Setelah semalaman nyobain tablet baru, alhamdulillah ndak salah beli. Muter video Netflix, youtube mulus banget dengan HD quality yang maknyuss. Internet nya kenceng banget, tapi belum nyoba kalo pake 4G. Yang asyik kalo dibandingkan ipad, tablet android bisa lebih leluasa kostumisasi nya.
Pagi2 tadi udah mulai lanjut install2 lagi. Nemu aplikasi blogger, langsung kangen ngeblog lagi. Mudah mudahan dengan tablet ini jadi rajin ngeblog lagi.
Thursday, February 17, 2011
Jum'at : Menjadi Hari Pembubaran Ahmadiyah
Sumber: Eramuslim
Hari Jum'at ini akan menjadi hari, "Pembubaran Ahmadiyah". Ormas-ormas Islam rencananya usai shalat Jum'at akan menyelenggarakan aksi di Bunderan Hotel Indonesia (HI), yang menuntut pembubaran Ahmadiyah. Aksi menuntut pembubaran Ahmadiyah ini sudah berulang-ulang diselanggarakan ormas-ormasi Islam. Tetapi, pemerintah tidak bergeming, dan sampai hari ini masih membiarkan Ahmadiyah hidup.
Para ulama, pemimpin ormas Islam, sudah melakukan segala upaya, mendatangi para pejabat Indonesia, aparat penegak hukum, dan bahkan sudah berkirim surat kepada Presiden SBY, agar mengambil keputusan membubarkan Ahmadiyah. Bahkan, aksi di depan Istana Negara, sudah berlangsung berulang-ulang yang di selenggarakan ormas Islam, tetapi pemerintahan SBY, nampaknya masih sangat 'sayang' dengan Ahmadiyah, sehingga Ahmadiyah tetap di biarkan hidup. Inilah yang menyebabkan timbulnya konflik di akar rumput, yang dapat mengancam stabilitas negara.
Bahkan, kemarin Komisi VIII, bertemu dengan tokoh Ahmadiyah, Abdul Basith, yang dengan beraninya mengatakan bahwa sesudah Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam, masih ada nabi yaitu Gulam Mirza Ahmad dari India. Inilah yang membuat umat Islam, para ulama serta para pemimpin ormas Islam tidak dapat mentolerir.
Aksi damai ini untuk mendesak agar Jamaah Ahmadiyah dibubarkan. Rencananya, digelar usai salat Jumat. Berbagai ormas ikut serta seperti Front Pembela Islam (FPI), dan Forum Umat Islam (FUI).
"Ini aksi damai, tidak akan anarkis. Pesertanya nanti akan taat pada pimpinan aksi. Para habaib dan ustad akan orasi," ujar penanggung jawab aksi, Ustad Bernard Abdul Jabbar, kepada para wartawan di Jakarta.
Usai menggelar aksi di Bundaran HI, massa akan long march ke kantor Komnas HAM yang terletak di Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat. Massa ingin mengingatkan kepada Komnas HAM agar tidak hanya melindungi Ahmadiyah.
"Ahmadiyah berlindung ke Komnas HAM. Komnas HAM membela luar biasa sekali Ahmadiyah atas nama HAM. Komnas HAM harus melindungi semua orang," ujar Ustad Bernard.
Diperkirakan, jumlah massa yang akan hadir sekitar seribu orang. Bahkan, warga dari daerah dikabarkan datang ke Jakarta untuk mengikuti aksi damai ini. Mereka dianjurkan untuk memakai pakaian putih.
"Ribuan yang akan hadir. Apalagi dari daerah juga ada yang datang. Kita mendesak Ahmadiyah dibubarkan," tutupnya. Langkah ini akan terus diambil oleh ulama, pimpinan ormasIslam, dan tokoh yang akan terus memperjuangkan dibubarkan Ahmadiyah.
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indoneisa (DDII), Syuhada Bahri, mengatakan, "Tidak ada pilihan lain, kecuali Ahmadiyah harus dibubarkan", tegasnya. (mhi/inlh)
Kick Andy METRO TV “Kesandung” Tayangan Seks Bebas Remaja
JAKARTA (Arrahmah.com) - Acara talkshow Kick Andy 'kesandung' tayangan seks bebas remaja. Andy F Noya, host acara Kick Andy dituding mengeksploitasi pekerja seks komersial remaja di saat taping (rekaman) acara tersebut, Rabu (19/1/2011). Parahnya terjadi 'insiden' pengusiran oleh Andy F Noya kepada Dewi Motik dari Ketua Konggres Wanita Indonesia dan Tatty Elmir, Direktur Eksekutif Djakarta Public Society. Berikut 'curhat' Tatty Elmir di blognya pasca 'pengusiran' oleh Andy F Noya.
KISAH DI BALIK INSIDEN KELUARNYA DEWI MOTIK DAN DIUSIRNYA SAYA OLEH ANDI F NOYA DALAM KICK ANDY DI METRO TV
"Kami Tak Sudi Diperintah Untuk bertepuk Tangan Atas Bencana Yang Kami Tangisi".
Malam ini, Rabu 19 Januari 2011 saya mendapat pembelajaran hidup yang luar biasa hebat. Peristiwa yang menjadi guru nan bijak bestari, dan tak mungkin akan terlupakan.
Sejak tadi SMS, dering telepon di HP dan rumah beberapa kali berbunyi menanyakan keadaan saya setelah diusir Andi F Noya dari Metro TV, dalam tapping acara Kick Andy (KA) tadi.
Lalu terpikirlah kini, ketimbang saya harus menceritakan kejadian yang sama berulang-ulang, mending saya tulis saja mumpung peristiwanya masih segar dalam ingatan.
"Hah, mama diusir ? seriuuuuus ?" tanya anak-anak tak percaya.
"Hehehe ga apa-apa diusir, asal setelah itu orang-orang menyadari, dan menjadi lebih sensitif, mengapa kita mau diperintah, harus bertepuk tangan untuk bencana yang kita tangisi?". Saya berusaha cengengesan.
Hmmm...Ceritanya berawal ketika hari minggu siang 16 Januari 2011, pejuang anak dan ketahanan keluarga psikolog Elly Risman, mengirim pesan singkat kepada Ibu Inke Maris (praktisi media, Ibu Wirianingsih (mantan ketua PP Salimah, Ibu Masnah Sari(Mantan Ketua KPAI, Shakina( Direktur Lembaga Manajemen Pendidikan Indonesia) dan saya sebagai pengurus ASA Indonesia, agar kami berkenan datang ke Metro TV, Rabu untuk mensupport Ibu Elly yang diundang sebagai nara sumber dalam acara "KA". Pada awalnya saya sudah mengatakan tak bisa hadir karena sudah ada agenda rapat. Namun karena Bu Inke Maris tiba-tiba kecelakaan, maka bu Elly lagi-lagi meminta saya untuk berkenan hadir, paling tidak memperlihatkan kekompakan kita.
Waktu itu kami semua berfikir dan membayangkan Ibu Elly Risman pimpinan Yayasan Kita dan Buah Hati, sahabat seperjuangan kami dalam mendirikan organisasi perlindungan anak ASA INDONESIA, akan dihadirkan sebagai tokoh pejuang anak dan perempuan, yang menginspirasi banyak orang dan layak jadi teladan, sebagaimana "Pahlawan di jalan sunyi" lain yang sebelumnya kerap dihadirkan di KA.
Meski kami sudah mengusahakan hadir 30 menit sebelum tapping jam 17.00 seperti yang dijadwalkan, ternyata acara molor 2 jam lebih, toh undangan berusaha ikhlas demi mensupport pejuang sekaliber Ibu Elly. Saya juga melihat begitu banyak petinggi dari berbagai organisasi termasuk institusi/lembaga negara seperti Depkes, Menkokesra, Menpora, dan lain-lain. (Semua tokoh yang saya tanyakan mengaku hadir untuk mensupport Ibu Elly, bukan atas undangan pihak Metro TV). Tentu mereka mengorban waktu mereka yang demikian berharga.
Sebelum acara dimulai, seperti biasa, floor manager ( tak taulah kalau di KA istilahnya apa) memberikan pengarahan yang antara lain, harus bertepuk tangan dengan antusias kalau dia mengaba-aba, mengawali tepuk tangan.
Sessi pertama Andi Noya menghadirkan seorang gadis remaja yang sejak usia 16 tahun sudah terbiasa melakukan seks bebas dan kini menjadi PSK. Kawan-kawan dari berbagai organisasi wanita di samping dan belakang saya mulai berbisik-bisik dan mengungkapkan kekecewaan, kenapa Andy justru mengeksplor masalah ke"terjerumusannya", bukan alert tentang bahaya seks bebas dan pornografi. Banyak ungkapan-ungkapan miris si gadis justru ditanggapi dengan joke oleh Andi yang memberi kesan seolah membenarkan kebiasaan buruk si gadis. Misalnya Andy bertanya "Apakah bunga ( nama samaran si gadis) memilih-milih orang yang menerima jasanya(yang disebutnya sebagai klien). Lalu si gadis menggeleng. Terus Andy mencecar terus, jadi ga apa-apa kalau yang datang tipe begini, begitu...termasuk..."Jadi orang kribo juga boleh?", tanyanya nakal sambil ngakak menunjukkan ke 'kriboan'nya.(Meski hanya gurauan, tapi ga kebayang bagaimana perasaan anak , istri dan mertua Andy menonton acara ini )
Dan banyak lagi joke-joke yang sangat tidak pantas dilontarkan jika kita memang MEMPRIHATINKAN masalah tersebut.
Yang lebih mengecewakan, Ibu Elly Risman yang diundang sebagai nara sumber, ternyata hanya didudukkan di kursi audience, lalu ditanya singkat, tanpa mempertajam "MATERI", yang menyangkut peringatan atas sesuatu yang selama ini selalu disebut bu Elly sebagai "Bencana Kemanusiaan" . Ibu Elly tak lebih hanya dijadikan sebagai "Asesoris" , pelengkap dan pemanis suatu acara.....dan sebagai alasan untuk suatu show yang seimbang karena menghadirkan pakar.
Sampai selesai wawancara dengan PSK remaja perempuan tadi, tak sekalipun Andy menanyakan dampak atau mudharat yang diterima si anak. Semua pertanyaan-pertanyaan hanya memancing jawaban yang seolah-olah memberikan pesan "Bahwa seks bebas adalah sesuatu yang lumrah bagi remaja, dan BETAPA MUDAHNYA MENCARI UANG DENGAN MENJUAL DIRI". Yang lebih miris, Andy memancing apa benar si gadis juga dipakai pejabat penting ? Lalu tertawa-tawa ketika si gadis mengiyakan sembari menyebut-nyebut pelanggannya dari berbagai lembaga terhormat negara seperti DPR dan BIN. ( Kata-kata itu, lalu diulang-ulang dan diperdalam dalam canda tawa). Yang lebih konyol, ketika Andi memancing lagi, bagaimana bisa tahu bahwa mereka dari lembaga itu? Dan si"Bunga" menjawab "Dari kartu anggota ". Agaknya memang dalam segala situasi dan program, sudah menjadi rahasia umum, Metro TV senantiasa teramat BERSEMANGAT, mencoreng wibawa pemerintah. Dan kebencian kepada pemerintah itu rupanya harus dipupuk dan diekspresikan di setiap tayangan.(Pas bagian ini baru saya tertawa walau kecut, menertawakan diri sendiri, atas keluguan mencerna sesuatu yang mengabaikan akal sehat, duh apakah masuk akal, bila seseorang akan melakukan perbuatan maksiat lalu menyorongkan kartu identitas dulu? )
Babak demi babak berlalu tanpa ada penekanan bahwa ini adalah sesuatu yang harus diprihatinkan, maka diundang pula nara sumber kedua, seorang PSK laki-laki berusia 19 tahun. Andy kian berani dengan canda vulgarnya, dan berusaha terus mengilik si remaja untuk blak-blakan menceritakan kisahnya sebagai PSK laki-laki dan gigolo dengan pasar 40 % perempuan dan 60% laki-laki ( Tapi versi narator di film pendek yang diputar 70% pelanggannya adalah laki-laki). Andi dengan leluasa mengekspresikan ke'kagumannya' atas "bualan" si anak yang katanya biasa dibayar 2-15 juta perorang, dan sehari ia biasa melayani sekitar 3 orang. Tragisnya lagi, cerita MENGERIKAN yang diungkapkan si anak yang merupakan berita duka untuk bangsa ini, justru harus diberi applause saban si nara sumber selesai mengobral kisah yang itu kian seru dan kian seru. Andi tak malu-malu mengumbar canda bahwa ia ngiri dengan gigolo bau kencur ini, dan ini adalah sesuatu yang ia juga impikan di masa muda, di saat masuk dalam obrolan bagaimana mereka 'main dalam mobil dengan beberapa orang gadis. Sungguh-sungguh ini lawakan yang menjijikkan, dan sangat melukai perasaan kita sebagai orang tua, dan tentunya melukai perasaan orang-orang beragama dan BERADAB.
Saya benar-benar gelisah di antara tawa gaduh ratusan mahasiswa dan anak muda yang diundang hadir, sembari sesekali menatap kawan-kawan, termasuk bu Elly yang juga tak dapat menyembunyikan kegelisahan beliau. Saat BREAK, ketua Kowani Ibu Dewi Motik mengingatkan Andy, bahwa sangat tak layak meminta orang bertepuk tangan untuk sesuatu yang memprihatinkan. Berulang-ulang beliau mengatakan merasa didzalimi. Saya juga meminta Andy untuk lebih memberi ruang kepada bu Elly sebagai peringatan kepada masyarakat, terutama anak-anak, agar tidak melakukan kesalahan yang sama. (Saya malahan berharap kehadiran kawan-kawan aktifis yang juga berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit kelamin dapat dijadikan sebagai info tambahan, bagaimana situasi dan data-data mengerikan di balik ruang prakteknya ).
Ekspektasi saya waktu itu, sebagai host yang bijak, Andy akan meminta masukan dari para pakar yang banyak hadir, bagaimana baiknya ending acara ini agar tidak disalah pahami, dan pesan yang disampaikan membawa manfaat untuk masyarakat, terutama anak mudanya agar jangan sekali-sekali meniru dan mengulangi kesalahan yang sama.
Duh....Alih-alih meminta saran, rasanya sungguh tak percaya, Andy terkenal dengan citranya yang 'baik' malah mengusir saya dari ruangan. Waktu Ibu Dewi Motik meninggalkan ruangan sembari mengucapkan kata-kata yang kurang lebih seperti ini.... "Maaf Andy, saya terpaksa meninggalkan ruangan ini, karena saya dizalimi. Saya pikir yang jadi nara sumber Ibu Elly, tapi ternyata anda memaksa kami untuk bertepuk tangan di tengah cerita yang menyedihkan dari anak-anak PSK ini ". Saya lihat Andy Noya dengan wajah tegang mempersilakan bu Dewi Motik yang memang sudah berjalan pergi, untuk meninggalkan ruangan. Lalu sutradara mengingatkan "Lihatlah acara ini dengan utuh". Ibu Elly Risman juga berusaha menenangkan dengan mengatakan bahwa nanti di babak akhir acara beliau akan mengingatkan masyarakat.
Biar ruangan tidak semakin gaduh, saya mencoba menyabarkan diri dengan bilang "Ya sudah kalau begitu, saya tetap akan di sini, dan berharap semoga acara berjalan seperti yang dijanjikan"
Tak dinyana tak diduga, eh Andy dengan kasar justru berulang-ulang bilang "Ibu juga ....Ibu harus pergi dari sini, kan ibu sudah tak tahan kan...ibu harus pergi...Ibu harus pergi !!"
Otomatis sayapun mengikuti langkah Dewi Motik, disusul 2 orang petinggi Kowani lainnya, setelah memohon pamit kepada Ibu Elly Risman dan mensupport agar beliau tidak lupa menyampai pesan, betapa bahayanya pornografi dan seks bebas.(Jujur saat itu saya menangis dalam hati, memohon ampun sama Allah jika saya pernah melakukan kedzaliman kepada orang lain...dan beginilah rasanya menjadi pecundang hina dina)
Di perjalanan pulang, kami berempat tak henti-hentinya beristighfar dan bersyukur kepada Allah, atas kekuatan yang diberikanNYA untuk menyampaikan kebenaran ini. Kami tahu, sebagai host acara yang cukup bagus, Andy F Noya senantiasa dihujani puja puji dan tepuk tangan. Karena memang selama ini Andy begitu dikagumi lantaran program Kick Andynya dianggap telah banyak menginspirasi orang. Mungkin karena kehebatan itu. selama ini tak pernah ada yang berani mengingatkan jika suatu ketika Andy salah. Jadi wajar Andy sangat marah ketika kami ingatkan bahwa tak selayaknya "KISAH HOROR" PSK remaja dieksploitir. Hmmm tepuk tangan memang menikam rupanya.
Buat Andy F Noya, terimakasih telah mengusir saya dengan begitu "SANTUN". Namun maaf sekali, saya tidak merasa lebih terhina. Saya justru bersyukur, karena setelah itu saya dapat kabar, anda memberi ruang untuk Ibu Elly bicara lebih banyak, ketimbang sebelumnya. Saya sangat menyayangkan, show anda yang dikagumi selama ini sebagai suatu tayangan yang "Mendidik", di antara tayangan sampah, ternyata juga "mengikuti selera rendah pasar" dan eksploitatif. Bahkan hingga di akhir acarapun saya mendapat laporan dari kawan-kawan yang masih berada di dalam, bahwa tak satu patah katapun keluar nasehat untuk anak muda yang bejubel hadir, bahwa ini sesuatu keprihatinan bersama, bahaya besar buat bangsa ini, dan jangan sampai ada yang meniru, atau nasehat apalah yang mendidik.
Anda keliru jika merasa hebat telah melecehkan orang lain. Percayalah, kehormatan dimata manusia tak ada artinya, jika kita tak punya kehormatan di mata Sang Maha Kuasa. Kemuliaan seseorang tak terusik dengan sangkaan manusia manapun. Lagi pula menghina dan melecehkan orang lain, sesungguhnya kita justru tengah menghinakan dan melecehkan diri sendiri.
Karena itu saya juga telah memaafkan anda tanpa diminta. Bagi saya kejadian ini hanya teguran dan pembelajaran dari Allah buat saya, agar kita jangan terlena jika sudah merasa berbuat baik, lalu merasa paling benar dan paling hebat. Ya Allah ampuni hamba.
Oya, satu lagi kekecewaan yang ingin saya sampaikan anda dan crew Metro TV, tak sedikitpun melindungi identitas si nara sumber (PSK remaja perempuan), begitu ia keluar studio rekaman. Saya dan Ibu Dewi Motik langsung dapat mengenalinya dan sempat memeluk serta menasehatinya. Pakaian yang ia kenakan dan atribut yang menyertai masih sama dengan apa yang ia pakai sewaktu dipanggung menjadi nara sumber yang bermandikan cahaya dan sorot kamera. Padahal jika memang benar ia PSK remaja, yang mau bertobat (seperti katanya) tentu ia masih punya harapan untuk hidup baik, bukan malah dieksploitasi dan dipromosikannya sebagai pelacur !!! Pernahkah anda membayangkan, bagaimana perasaan anda jika nasib itu menimpa anak anda sendiri ?
Ketika saya hendak menutup "Cerita menjelang tidur ini", saya dapat SMS dari Ibu Elly Risman yang bertuliskan "Kau benar adikku. Kakak Kecewa sampai tak tahu harus jawab apa. Tapi mudah-mudahan pesan yang yang sedikit itu sampai. Kita Tidak dilibatkan membuat programnya. Terimakasih ya sayang, telah bersikap".
Ya Rabbana, berilah kami selalu kekuatan untuk menyatakan kebenaran jika itu benar, dan melawan segenap kemungkaran, meski hal itu harus melukai diri sendiri.
Amin ya Rabbal Alamin.
(Tatty Elmir 19 Januari 2011)
Tuesday, February 8, 2011
Wael Ghonim Relaunches the Revolution
Everyone following events in Egypt knows by now that, last night around 11pm on Dream 2, Wael Ghonim — one of the instigators of the January 25 movement who has just been released after 12 days in detention — gave the country one of the most moving moments of television I have ever seen. After explaining his ordeal, his ideals, and his views on why the people in Tahrir were right, host Mona Shazli showed pictures of the "martyrs" of this uprising. Ghonim broke down and cried, saying as he sobbed: "It's not our fault. To the mothers and fathers, it's not our fault. It's the fault of the people in positions of authority who don't want to leave power."
This cathartic moment may be the spark that was needed to revive Egypt's revolutionary fervor. The regime had, to some extent successfully, driven a wedge between the protestors and the majority of Egyptians who have spent the last two weeks terrified about the lack of security and hurting because the economy has come to a halt. It also spread insidious, xenophobic propaganda about how the people in Tahrir were foreigners, paid by the US to protest, agents of Israel and Iran (those two fight a lot but will always get together against Egypt, obviously), or simply that their behavior is "not Egyptian."
I thought that the next step for the people in Tahrir would have been to retake the initiative by suggesting its own roadmap for transition, or focusing on the many deaths and reports of the use of snipers that are coming out. After two weeks, the world's media is getting tired of this story and there needed to be a relaunch. Who better than a marketing executive from Google to do that? Ghonim's appearance was heartfelt and genuine, and kudos to Dream — especially the wonderful Mona Shazli, who has the uncanny ability to frame her questions with both an air of maternal authority and convey an everyman's take on events — for airing this interview and so many others that reveal the criminality of the government and the courage of the protestors.
Today's day of rage should be big, and with these few minutes of television the people in Tahrir may finally have a leader.
Source: http://www.arabist.net/blog/2011/2/8/wael-ghonim-relaunches-the-revolution.html
Clarifying the Muslim Brotherhood
As Mubarak's regime starts to topple, there is speculation whether the Muslim Brotherhood will dominate the new Egyptian political landscape. It will undoubtedly play a role in creating a new government, but is adamant in its stance that is does not seek leadership and will not field candidates for presidency. The Brotherhood is the largest, most popular, and most effective opposition group in Egypt.
Those who oppose the Muslim Brotherhood usually contrive their arguments against them saying that they represent Islamic tyranny, adding that the Muslim Brotherhood was originally an anti-system group that committed acts of violence against its opponents in the pre-1952 era. However, portraying the Brotherhood as eager to seize power and impose Islamic law on an unwilling nation is ludicrous, as the group has obviously changed and evolved throughout its history and its stances in the current crisis constitute a voice of moderation, insight and determination that can only be applauded, and which has gained the group, and protestors international sympathy and support.
Founded in 1928, the Muslim Brotherhood is the longest continuous contemporary Islamist group. It was initially established, not as a political party, but as a da'wa (religious outreach) association that aimed to cultivate pious and committed Muslims through preaching, social services, and spreading religious commitment and integrity by example. It called on Egyptians to unite to confront imperialism and pursue economic development and social justice.
In 1984, the Brotherhood started running candidates in elections. The Brotherhood entered the political system to advocate for the people's will and be the voice of ethics and justice. Leaders who were elected to professional syndicates engaged in sustained dialogue and cooperation with members of other political movements. Through interaction, Islamists and Arabists found common ground in the call for an expansion of public freedoms, democracy, and respect for human rights and the rule of law.
The Brotherhood has been working for years on projects to create a civic charter and a constitution, preparing for the time when a new democratic government came to power. During the past week of protests, members of the cross-partisan groups were able to quickly reactivate their networks and help form a united opposition front. It is likely that these members will play a key role in drafting Egypt's new constitution.
Over the last 30 years, the Brotherhood has developed expertise in electoral competition and representation, and has developed new professional competencies and skills, forging closer ties with Egyptian activists, researchers, journalists, and politicians outside the Islamist camp. The leadership is more internally diverse today than ever before.
There is a new generation of Islamist democracy activists both inside and outside the Muslim Brotherhood. The Brotherhood is using discretion in its function in the uprising, aware that the greater its role, the higher the risk of a violent crackdown. There is a historic precedent for this in the harsh wave of repression that followed its strong showing in the 2005 parliamentary elections. Its immediate priority is to ensure that President Hosni Mubarak steps down and that the era of corruption and dictatorship associated with his rule comes to an end. The Brotherhood also knows that a smooth transition to a democratic system will require an interim government palatable to the military and the West, so it has indicated that it would not seek positions in the new government itself.
Reformers, like the Brotherhood, will be vital among the other opposition groups when they draft a new constitution and establish the framework for new elections. The Brotherhood has demonstrated that it is capable of evolving over time, and the best way for Egypt to strengthen its democratic commitments is to include it in the political process, making sure there are checks and balances in place to ensure that no group can monopolize state power and that all citizens are guaranteed certain freedoms under the law. This is what the Brotherhood is calling for.
The Brotherhood has a track record of nearly 30 years of responsible behavior and has a strong base of support. It has thereby earned a place at the table in the post-Mubarak era. And indeed, no democratic transition can succeed without it.
Saturday, January 22, 2011
Thursday, May 27, 2010
Melepas Kepergian Sri Mulyani
Dalam sebuah dialog dengan Wimar Witoelar di MetroTV, Sri Mulyani pernah menyebut karakter orang Indonesia dengan ungkapan, Short Memory Lost. Orang Indonesia pelupa, mudah melupakan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya belum lama berlalu. Dan saya melihat, kenyataan itu terjadi lagi dalam kasus Sri Mulyani saat ini.
Selama berbulan-bulan media massa menampilkan liputan seputar kerja Pansus Bank Century di DPR, sampai sidang paripurna DPR RI yang menghasilkan rekomendasi opsi C, nama Sri Mulyani dan Boediono menjadi bulan-bulanan media massa. Para demonstran di jalanan menggambarkan sosok Sri dan Boed sebagai drakula, dengan taring tajam, dan lelehan darah dari mulutnya. Juga ada yang menampilkan “Mbak Sri” dalam tampilan narapidana di balik penjara, dengan memakai baju-celana belang-belang (seperti ular Weling).
Tapi kini, ketika Sri Mulyani lengser dari kursi Menkeu dan siap berangkat menjadi pejabat di Bank Dunia, semua orang tiba-tiba menaruh belas kasihan, merasa sayang kepada Mbak Sri, merasa memiliki, memujinya setinggi langit, memberikan forum terhormat baginya untuk pamitan, serta membuat aneka rupa testimoni tentang kehandalan “the best finance minister” itu. Salah satu contoh, J. Kristiadi, tokoh elit CSIS, dalam salah satu liputan di MetroTV, dia dengan terang menyalahkan bangsa Indonesia yang tidak bersikap ramah kepada tokoh jenius seperti Sri Mulyani, sehingga wanita satu ini akhirnya diambil oleh Bank Dunia.
"Jangan Menangis, Bulek!"Entah apa rakyatnya yang memang ingatannya pendek, atau media-media massanya yang bego ya. Sri Mulyani dengan segala kiprahnya adalah FAKTA yang jelas, tidak samar lagi. Dia adalah operator ekonomi Neolib di Indonesia, bersama Boediono, dan para pendukungnya. Apa yang bisa dibanggakan dari ekonomi Neolib? Ia adalah tatanan ekonomi yang membuat kekayaan bangsa Indonesia semakin deras dijarah oleh orang-orang asing. Ekonomi Neolib sangat ramah kepada kaum elit yang kaya-raya, tetapi sangat menindas rakyat kecil.
Pada hakikatnya, ekonomi Neolib sama persis dengan EKONOMI FEODAL di jaman Belanda dulu. Ketika itu Belanda sebagai dominator pengeruk kekayaan nasional. Operasi penjarahan oleh Belanda ini difasilitasi oleh kalangan Bangsawan (Ningrat) yang oleh banyak orang disebut kaum “priyayi” (ambtenar). Mereka adalah kalangan bangsawan, kaya, anti kemerdekaan, dan mengabdi kepentingan kolonialis. Kenyataan yang sama terjadi di Indonesia ini, di jaman Orde Baru dan terutama setelah Reformasi, sebagian elit priyayi menjadi makelar-makelar penjajahan kekayaan nasional oleh orang-orang asing. Kalau dulu penjajahnya cuma Belanda, kalau kini banyak sekali: Amerika, Inggris, Belanda, Jepang, Korea, China, Singapura, Jerman, Perancis, Bank Dunia, IMF, dan sebagainya.
Adapun untuk menghibur rakyat Indonesia (sekaligus memperdaya akal mereka), rakyat Indonesia cukup diberi beberapa model hiburan: Tontonan TV, fantasi dengan rokok, sepakbola, dan MSG. Kalau kita cermati dengan teliti, konstruksi ekonomi Indonesia saat ini tak ada bedanya dengan masa penjajahan Belanda dulu. Malah ketika itu, kondisinya belum separah dan serumit saat ini.
Apa yang bisa dibanggakan dari seorang Sri Mulyani? Dia ini bisa dikatakan merupakan salah satu “priyayi” yang menjadi operator praktik penjajahan ekonomi di Indonesia, oleh kekuatan asing. Kalau kini dia direkrut oleh Bank Dunia, apa yang aneh? Toh, sebelumnya dia menjadi kaki-tangan IMF.
Sekedar ingin mengingatkan fakta-fakta “masa lalu” tentang betapa bobroknya moralitas seorang Sri Mulyani di hadapan rakyat dan bangsa Indonesia. Semoga media-media massa mau sedikit berubah dari ke-bego-an mereka. (Nyari duit sih boleh, tapi jangan keterlaluan dong dalam membohongi masyarakat!).
- Nama besar Sri Mulyani mulai berkibar ketika terjadi Krisis Moneter 1997. Dia waktu itu dikenal sebagai pakar ekonomi dari UI. Saya masih ingat, penampilan Sri Mulyani waktu itu “belum didandani” seperti sekarang. Mungkin ketika itu, gaji dia belum cukup untuk membiayai “kebutuhan pencitraan”.
- Sri Mulyani ketika masa-masa Krisis Moneter waktu itu sangat kritis pemikirannya. Dia bependapat supaya perbaikan ekonomi nasional dilakukan dengan cara-cara radikal. Sri ketika itu juga kencang dalam mengkritik pendekatan ekonomi yang ditempuh IMF. Pendek kata, Sri Mulyani bersinar bintangnya seiring munculnya badai Krisis Moneter.
- Setelah tahun 1998, Soeharto lengser dari kursinya. Ketika itu nama Sri Mulyani tiba-tiba hilang dari peredaran. Jarang sekali media-media massa menyebut namanya. Kemanakah “Jeng Sri”? Ternyata, dia telah bekerja menjadi seorang pejabat tinggi IMF. Seingat saya, dia menjadi supervisor IMF untuk wilayah Asia-Pasifik. Oh ala, ternyata Sri Mulyani bekerja di IMF, pihak yang pernah dia kritik ketika Krisis Moneter terjadi.
- Perlu diingat, yang membidani kehancuran ekonomi nasioanal, dan keterpurukan Indonesia seperti saat ini adalah IMF. Butir-butir LOI (Letter of Intends) yang disepakati antara Indonesia dengan IMF itulah yang menghancurkan ekonomi kita dan merusak fundamental ekonomi yang susah-payah dibangu7n sejak tahun 70-an. Dalam LOI dengan IMF itu, Indonesia bukan saja diharuskan tunduk kepada aturan-aturan IMF, tetapi negara ini sesungguhnya telah DIBELI KEDAULATAN-nya oleh IMF. Bayangkan, sampai untuk urusan jual-beli rotan saja, IMF ikut campur mengatur. (Untung untuk masalah jual-beli terasi, ikan asin, dan kerupuk, IMF tidak ikut-ikutan).
- Demi Allah, Rabbul ‘alamiin, Rabus Samawaati wal ardh, IMF itulah sumber kehancuran ekonomi Indonesia. Akibat perjanjian dengan IMF, Pemerintah RI harus mengeluarkan BLBI yang kemudian membuat negara ini kehilangan dana sebesar 500-600 triliun rupiah (100 kalinya dana Bank Cenmtury). Nah, BLBI ini menjadi sumber kehancuran ekonomi yang susah diobati sampai saat ini. Jika ada “Dajjal Ekonomi” yang sukses besar merusak kehidupan rakyat Indonesia, itulah IMF.
- Sebagai supervisor IMF, Sri Mulyani sangat tahu tentang penerapan butir-butir LOI, dalam rangka melucuti kedaulatan ekonomi Indonesia, memperbesar praktik penjajahan asing, serta memupus harapan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Sri sangat tahu itu, sebab dia menjadi supervisor Asia-Pasifik. Dan dia digaji oleh IMF untuk mengawasi praktik penjarahan ekonomi di negaranya sendiri. (Luar biasa, rasanya muntah kalau membayangkan rizki yang diterima Sri Mulyani dari gaji-gaji yang dia peroleh di IMF itu. Na’udzubillah wa na’udzubillah, ya Allah lindungi kami dan anak keturunan kami dari menerima rizki kotor dari tangan para penjajah keji. Amin Allahumma amin).
- Ketika Sri Mulyani menjadi Menkeu di era SBY, dia sangat kejam dalam menerapkan kebijakan pemotongan subsidi BBM, sehingga hal itu menjadi hempasan keras yang memiskinkan rakyat ke sekian kalinya. Di mata Sri Mulyani, nilai rakyat Indonesia hanyalah sekedar ANGKA belaka. Termasuk kebijakan memotong subsidi untuk perguruan tinggi, memperbesar kewajiban pajak, memberikan segala rupa keistimewaan perlakuan kepada para investor asing, dll. Bahkan yang paling kacau adalah kebijakan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Ternyata bantuan ini sumbernya dari dana hutang Bank Dunia. Allahu Akbar.
- Setelah satu periode Kabinet SBY berakhir pada 2009 lalu, ternyata diperoleh data baru posisi keuangan negara. Hutang luar negeri Pemerintah naik dari posisi sekitar Rp. 1300 triliun menjadi sekitar Rp. 1700 triliun; ada kenaikan hutang selama 5 tahun Kabinet SBY sebesar Rp. 400 triliun. Dan kini kabarnya naik lagi lebih tinggi.
- “Prestasi” lain dari Sri Mulyani yang layak dicatat ialah besarnya kepemilikan SUN (Surat Utang Negara) di tangan asing. Dalam setahun, katanya negara harus mengeluarkan dana sekiatar Rp. 60 triliun untuk membayar bunga kepada para pemegang SUN itu.
- Dan lain-lain.
Jadi, adalah sangat dusta kalau kita lalu memuji-muji Sri Mulyani. Tokoh ini bahkan sudah pantas disebut sebagai PENGKHIANAT NEGARA, bersama Si Boed dan kawan-kawan. Mereka ini andilnya sangat besar dalam menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia.
Dari sisi pintar, mahir bahasa inggris, penampilan modis, tegas bicara, tahan mental, bergaji tinggi, berwawasan global, dll. ya okelah kita akui, Sri Mulyani orangnya. Tapi dari sisi moralitas dan kontribusinya bagi kebaikan hidup rakyat Indonesia, reputasi Sri Mulyani sangat mengerikan.
Tidak berlebihan kalau saya menasehatkan kepada kaum Muslimin: “Jika Anda mendengar nama Sri Mulyani diucapkan, atau Anda melihat gambar dia di TV atau koran, ucapkan ‘audzubillah minas syaithanir rajiim‘.” Tokoh satu itu bukan lagi masuk alam manusia, tapi sudah selainnya.
Kini Sri Mulyani siap disambut dengan kalungan bunga, di kantor Bank Dunia sana. Tapi yakinlah, semua itu hanya basa-basi saja. Alam semesta, langit-bumi, beserta benda-benda langit yang demikian banyak, beserta hewan-hewan di daratan dan lautan, mereka mengutuk orang-orang zhalim yang menyengsarakan kehidupan jutaan kaum Muslimin, sehingga mereka hidup menderita lahir-bathin, dunia Akhirat.
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
AMW.
Tuesday, May 25, 2010
Din Tutup 3 Akun Facebook Gara-gara Kontes Gambar Nabi Muhammad
"Saya kira itu orang gila yang sengaja memprovokasi umat Islam dan itu akan terus menerus terjadi. Maka umat Islam nggak usahlah bersikap reaksioner apalagi melampaui batas," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin.
Hal itu disampaikan dia usai bertemu dengan Wakil Presiden Boediono untuk menyampaikan undangan menutup Muktamar Satu Abad Muhammadiyah 3-8 Juli 2010 mendatang di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/5/2010).
Imbauan Din itu untuk menanggapi adanya kontes 'Everybody Draw Mohammed Day' di situs pertemanan Facebook yang panen protes beberapa waktu lalu. Permasalahan tersebut kini sudah sedikit mereda.
"Hal-hal kayak begitu akan terus terjadi, sengaja untuk membangkit-bangkitkan emosi umat Islam. Umat Islam tidak usah bereaksi berlebihan. Protes juga mereka akan ketawa-ketawa saja mereka nanti," lanjut Din.
Menurut Din, cara terbaik dalam menanggapi kontes menggambar Nabi Muhammad itu adalah dengan menutup akun Facebook masing-masing bila mempunyai. Din mengaku telah menutup tiga akun Facebook-nya sejak publikasi lomba itu mencuat.
"Karena itu di Facebook, ya, berhenti saja punya Facebook. Saya kebetulan punya 3 akun langsung saja saya tutup," jelas Din.
Dengan menutup akun Facebook, pengelola situs tersebut akan menderita kerugian, sehingga berpikir untuk tidak memuat konten-konten berbau SARA lagi.
"Kalau itu lewat sarana seperti Facebook, ya, nggak usah berlangganan. Biar Facebook-nya rugi. Karena begitu saya tutup Facebook mengundang terus itu kapan bisa kembali," tutup Din sambil tertawa.
(irw/Rez)
Source
Tuesday, May 18, 2010
Dunia Di Mataku Photoblog Reborn
Visit my new format photoblog "Dunia di Mataku". In this photoblog you can see my photo collection and download any photo in high-resolution. For more photos you can also visit my portfolio at dreamstime.
Silahkan mengunjungi photoblog saya dengan format baru "Dunia di Mataku". Di photoblog ini anda dapat menikmati koleksi foto saya dan dapat mengunduh foto apa saja dengan resolusi tinggi. Untuk melihat foto-foto saya yang lain yang lebih komplit, anda dapat mengunjungi portofolio saya di dreamstime.
Monday, May 17, 2010
Ternyata Musik Klasik Tak Berpengaruh Pada Kecerdasan Otak
JERMAN (Berita SuaraMedia) - Berdasarkan riset terbaru, tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung apa yang disebut "efek Mozart", yang menghubungkan musik klasik Mozart dengan kemampuan kognitif.
Seperti diberitakan oleh HealthDay News, suatu penelitian telah memperdebatkan sekaligus mematahkan hasil riset terdahulu yang memperlihatkan hubungan antara mendengarkan musik Mozart dan peningkatan kemampuan otak.
Hasil studi pada 1993 yang diterbitkan di jurnal Nature menunjukkan bahwa mendengarkan musik Mozart akan meningkatkan kemampuan kognitif. Alhasil, riset ini lalu memicu para orangtua untuk memperkenalkan bayi dan anak kecilnya pada musik klasik, serta pengusaha berlomba menjualnya ke berbagai sekolah, pusat perawatan siang hari dan orangtua.
Namun, hasil kajian terbaru para ilmuwan Austria tidak menemukan bukti signifikan kalau mendengarkan musik Mozart memberi pengaruh pada kemampuan kognitif seseorang.
Dalam studi paling mutakhir itu, para peneliti di University of Vienna mengkaji lebih dari 40 studi dan penelitian yang tak disiarkan yang meliputi lebih dari 3.000 subyek. Kesimpulan mereka adalah tidak ada riset yang mendukung pendapat bahwa musik Mozart meningkatkan kemampuan otak anak.
Secara khusus, temuan itu membantah mitos mengenai dampak peningkatan kemampuan otak di antara pendengar musik Mozart. Para peneliti melaporkan bahwa mereka tak dapat mengonfirmasi dampak menguntungkan dari mendengarkan musik Mozart.
"Saya menyarankan mendengarkan musik Mozart kepada setiap orang, tetapi ini tak memenuhi harapan akan peningkatan kemampuan kognitif," kata penulis studi itu, Jakob Pietschnig, ahli ilmu jiwa di University of Vienna.
Tim peneliti dari Universitas Vienna meneliti ulang 3 ribu kasus dari 40 studi internasional yang menyimpulan tidak ada bukti efek dari Mozart.
“Siapapun yang mendengarkan musik baik Mozart, Bach tidak lebih baik dari grup yang tidak. Tetapi kami mengetahui bahwa orang akan memiliki performa yang baik jika mereka memperoleh stimulus,” ujar peneliti utama Jakob Pietsching.
Riset tidak mengatakan musik tidak berdampak pada pengembangan otak, namun pendengar pasif tidak memiliki keuntungan yang masuk di akal seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Sementara studi lainnya menyarankan bahwa proses kreatif, analitis dan aktivitas fisik terlibat dalam pembelajaran yang mampu mempengaruhi fungsi kognitif dan otak.
Satu studi longitudinal menemukan bahwa anak-anak yang menerima rangsangan musik tidak selalu akan memiliki kemampuan bermusik, juga kemampuan lain termasuk tata bahasa atau logika matematika.
Studi tersebut memeriksa rangsangan dan pelatihan musik dan analisis terbaru memberikan kesimpulan bahwa tidak ada keuntungan kognitif yang ditawarkan.
Anda selalu memperdengarkan musik klasik untuk bayi anda atau calon bayi anda agar mereka memiliki kemampuan kognitif yang hebat? Pikirkan lagi! Sebab berdasarkan penelitian terbaru yang dilakukan oleh ilmuwan Austria, mereka tidak menemukan adanya pengaruh yang signifikan musik klasik Mozart dengan kemampuan kognitif bayi. (fn/km/inl/bt) www.suaramedia.com
Thursday, April 29, 2010
Insyaflah Wahai Manusia: Lagi-Lagi Tentang Pergaulan (Seks) Bebas
Source: http://abisyakir.wordpress.com/
Special: “Semerbak Godaan SEKS”
Dari situs eramuslim.com saya membaca artikel tentang jejering facebook yang sering dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan negatif. Misalnya, untuk curhat hal-hal yang bersifat terlalu pribadi, melontarkan godaan seks, berpesta kata-kata ngeres, menjaring calon korban eksploitasi seks, dan lain-lain. Ketika membaca artikel itu saya segera teringat sebuah ide tulisan yang telah lama ingin ditulis.
Baiklah, kita mulai saja. Sebelum tulisan ini berlanjut, mohon para pembaca untuk berbesar hati sejenak membaca kalimat-kalimat sensual di bawah ini. Kalimat seperti ini banyak beredar di tengah-tengah anak muda dewasa ini. Ia sering dipakai oleh para penulis porno yang untuk membangun imajinasi kotor. Setidaknya, kalimat-kalimat seperti itu sangat kental nuansa imajinasi seksualnya. Sebagian ide kaliamat ini, saya mengambil dari artikel di eramuslim.com, sebagian lain saya buat sendiri. Sekali lagi, mohon berbesar hati dulu!
Beberapa orang gadis muda metropolis menulis dalam halaman facebook-nya:
“Oh sayang, malam ini hujan deras. Terasa sangat dingin. Aku sendiri di tempat tidur. Andaikan ada kekasihku yang tampan di sisiku, malam ini tentu akan terasa sangat hangat. Ooohhh…”
“Sayang, andaikan kamu datang ke apertemenku. Aku lagi sendiri. Aku kesepian. Kalau ada kamu di ruang tamuku, aku akan melakukan aksi terbaikku. Aku kan mandi air hangat sebersih mungkin. Lalu keluar kamar mandi untuk menjumpaimu, hanya memakai handuk putih. Di hadapanmu, aku akan pura-pura melakukan sesuatu, agar handukku jatuh ke lantai. Lalu terjadilah yang terjadi… Kita larut dalam desahan-desahan nafas.”
“Kalau di kamar kost, aku sering sengaja tidak memakai daleman, bawah dan atas. Ya, selain karena kamarku panas, aku kegerahan. Tapi ada maksud lain juga. Siapa tahu, ada cowok cakep masuk kamar? Kalau ada cowok itu, ya sudah tinggap siap pakai. Tidak usah prosedur macam-macam.”
“Sayangku, sekali aku melakukan hal itu denganmu, aku ingin lagi. Sungguh enak, terasa nikmat. Rasanya, semua duka dan sedihku hilang. Apalagi engkau laki-laki yang gagah, permainanmu sungguh menakjubkan. Kapan lagi sayang kita bermain-main lagi? Aku merindukanmu.”
“Pagi ini aku bangun dalam keadaan tidak memakai apa-apa. Aku tidur, hanya ditutupi selimut. Tadi malam Arjunaku datang dan meminta kenikmatan. Ya sudah kami lakukan bersama. Malam yang dingin terasa panas. Aku mendesah terlalu keras. Mungkin tetanggaku terganggu. Tapi mereka juga sering menggangguku. Oh, Arjunaku sungguh hebat. Dia tahu aneka teknik yang aneh-aneh. Aku nurut saja. Ah, biar saja, toh aku senang juga.”
Saudaraku rahimakumullah…
Mohon maaf beribu maaf. Dengan terpaksa kutulis ratapan-ratapan birahi beberapa wanita muda itu. Meskipun semua ini hanya imajinasi belaka. Mohon jangan berburuk sangka dulu. Ada maksud baik yang diinginkan dari gambaran tentang ratapan-ratapan birahi di atas.
Kehidupan yang semula bening, akhirnya hancur karena seks bebas.
Kalau Anda perhatikan, semua ratapan itu diucapkan oleh wanita (atau cewek-cewek). Ratapan birahi di atas sangat besar pengaruhnya bagi orang laki-laki, khususnya anak-anak muda. Tetapi sebenarnya, ia tidak terlalu berpengaruh kuat bagi orang wanita. Stimulus seksual bagi laki-laki dan wanita BERBEDA. Kegairahan seksual laki-laki sangat dipengaruhi oleh pandangan mata, pendengaran telinga, dan IMAJINASI-nya. Anda harus ingat, orang laki-laki itu lebih kuat rasionya daripada perasaannya. Maka kalau ada ratapan-ratapan birahi itu, pasti akan segera memunculkan imajinasi bermacam-macam. Dengan catatan, laki-laki itu normal.
Kalau kita baca ratapan-ratapan birahi itu, kesimpulan yang paling mudah muncul dalam benak kita adalah: “Wah, indah sekali ya dunia birahi dengan wanita-wanita itu. Ternyata, kehidupan seks mereka sangat meriah, bergairah, dan bergelora. Oh, sungguh indahnya hidup di tengah mereka. Sehari-hari bisa berpesta seks sesuka hati, sebebas-bebasnya. Itulah dunia yang didambakan anak muda.” Ya begitulah kira-kira kesan paling sederhana dan rasional yang bisa kita tangkap.
Tapi ingat, semua pesta seks dan segala keindahan yang diklaim itu, ia dilakukan di atas perbuatan dosa. Semua itu dilakukan secara ilegal alias ZINA. Pertanyaannya, apakah para pelaku zina itu bisa merasakan kenikmatan seks? Apakah mereka bisa melakukan kegiatan-kegiatan seks yang benar-benar berkesan, memuaskan, dan penuh nikmat? Apakah dalam hidupnya mereka bisa mendapati kenikmatan seks yang ideal?
Sungguh, demi Allah Ta’ala, para tukang zina itu sama sekali tidak akan mendapati kenikmatan seks yang ideal seperti yang didampakan setiap orang, baik laki-laki maupun wanita. Jauh, jauh, sangat jauh sekali. Segala kemegahan suasana seks yang mereka gambarkan, semua itu hanyalah IMITASI, hanyalah OBSESI mereka yang tidak pernah terpuaskan, sampai kapanpun juga.
Buktinya apa?
Saudaraku, ketahuilah, semoga Allah Ta’ala menolongmu untuk mencintai-Nya dan tulus berbakti kepada-Nya. Amin. Dunia seks itu sama dengan dunia kerja, dunia belajar, dunia karya, dunia pengabdian, dan sebagainya. Anda pasti sangat kenal ungkapan ini, “Segala sesuatu ada seninya!” Nah, dalam dunia seks juga ada SENI-nya. Malah, tingkatan seni yang dibutuhkan untuk mendapatkan nikmat seks yang sempurna, sangat rumit. Ia sangat jauh dari gambaran yang dibuat oleh tukang-tukang pengetik novel cabul. Sama sekali jauh.
Apa buktinya?
Saya berikan bukti kepada Anda dengan sejelas-jelasnya. Ketahuilah saudaraku, aku menikah baik-baik dengan isteriku ketika usiaku masih muda, sekitar 21 tahun. Anda tahu, di usia 20-an tahun itu tentu stamina seseorang masih kuat dan tangguh. Apalagi, aku sendiri sejak kecil tidak pernah merokok dan ketika remaja suka olah-raga. Lalu apa yang kudapati dalam kehidupan seksual ini? Sungguh, aku baru memahami seni hubungan seksual yang baik dengan isteri, setelah masa pernikahan berjalan 3 tahunan.
Anda catat dengan baik: TIGA TAHUNAN, fren! Padahal tentu selama 3 tahun itu tidak terhitung berapa kali hubungan seksual dilakukan. Masya Allah, urusan seks itu ada seninya. Dan Anda akan belajar menemukan seni hubungan itu seiring perjalanan rumah-tangga Anda.
Lalu lihatlah anak-anak muda bodoh, baik gadis-gadis ABG yang hina, maupun pemuda-pemuda konyol yang otaknya dipenuhi obsesi-obsesi cabul! Mereka memasuki dunia seks terburu-buru, tergesa-gesa, main tembak, main sikat saja. Mereka melakukan pesta seks seperti hewan; mereka tidak memiliki suatu seni apapun, selain slogan konyol, “Kalau tidak menembak, aku akan tertembak.” Ya Allah ya Karim, betapa bodohnya anak-anak itu.
Aku sangat terkesan dengan sebuah ayat dalam Surat Al Hasyr: “Wa laa takunu kalladzina nasullah fa ansahum anfusahum, ulaika humul fasiquun” (janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah pun membuat mereka lupa terhadap diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasiq).
Ayat ini sangat benar. Anak-anak muda bodoh dan dungu itu, mereka enggan beribadah, melupakan Shalat, tidak mau membaca Al Qur’an. Dzikir yang mereka ucap setiap hari isinya hanya: anjing, sinting, goblok, coitus, Mr. P, Miss V, kamasutra, video bokep, perek, sakaw, sabu-sabu, baphomet, satan, dll. Amat sangat mengerikan. Mereka melupakan Allah, maka Allah pun membuat mereka lupa terhadap dirinya sendiri.
Urusan seks itu sangat halus. Tidak sekasar yang digambarkan dalam film-film porno, video mesum, dalam novel cabul, dan sebagainya. Sama sekali tidak! Urusan seksual itu sangat lembut. Jika seseorang ingin mendapat sensasi rasa yang maksimal, dia harus memiliki SENI-nya. Sedangkan seni seksual itu membutuhkan masa berlatih yang panjang, disamping kesetiaan, kepasrahan hati kepada pasangan (suami/isteri), jaminan pengakuan sosial, serta situasi kondusif untuk melakukannya.
Apa yang ditulis dalam ratapan-ratapan birahi di atas, dalam novel-novel cabul, dalam canda-candaan cabul, dalam artikel-artikel cabul (seperti di Pos Kota), semua itu OMONG KOSONG belaka. Kalau orang-orang yang meratap itu merasa bahagia, pasti dia tidak akan meratap. Justru karena mereka gagal, mereka merasa dirinya kotor dan jijik, mereka merasa sudah putus-asa untuk mendapatkan kenikmatan seks hakiki, maka keluarlah ratapan-ratapan yang mengerikan itu. Semakin kencang ratapan mereka, semakin kuat bukti keputus-asaan mereka.
Demi Allah, tidak akan mungkin mereka mendapati kenikmatan seks ideal dengan cara-cara yang ilegal. Semakin bertambah jumlah perzinahan mereka, semakin sakit dirinya, semakin menderita hidupnya. Semakin dalam mereka terjun ke dunia seks bebas, semakin hancur urusan seks-nya. Hanya waktu yang akan membuktikan, bahwa suatu saat mereka akan mati binasa sebagai sampah tak berguna.
Ini kenyataan dan sudah banyak faktanya. Anak-anak muda yang saat ini sangat mendewa-dewakan seks bebas, sangat terobsesi dengan segala bentuk seks ala binatang, sangat provokatif dalam mengangkat isu-isu seks. Mereka itu pada dasarnya sedang diberi TOLERANSI oleh Allah Ta’ala. Mereka dipersilahkan menghabiskan masa mudanya, kekuatan tubuhnya, untuk bersenang-senang sesuka hatinya. Batas yang diberikan kepada mereka hanya sampai usia 30 tahun saja. Silakan selama itu mereka berpesta, bersuka ria sesuka hati. Sesudah usia menginjak 30 tahun, bahkan bisa lebih rendah dari 30 tahun, hidup mereka akan dibakar perlahan-lahan. Itulah balasan atas segala kesombongan dan sikap sok jago mereka. Demi Allah, mereka tidak memiliki masa depan sama sekali. Kecuali kalau mereka segera sadar, lalu segera taubat sebelum masa-masa sanksi Allah tiba.
Di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagainya banyak eksekutif-eksekutif muda yang maniak seks. Tingkahnya sama seperti anak-anak ABG dungu itu. Mereka juga memuja-muja seks, memuja-muja syahwat dan libido. Kalau di Jakarta, inspirator mereka adalah seorang laki-laki terlaknat, Moamar Emka.
Orang-orang ini sama saja, sama bodohnya, sama dungunya. Hanya bedanya, mereka punya uang lebih banyak, memiliki fasilitas lebih keren, lebih keji seleranya, dan tentu saja lebih munafik. Sebab mereka seperti binatang amfibi, hidup di dua alam. Di satu alam, mereka memuja seks bebas; di alam lain, di dunia formal, mereka fasih mengucapkan, “Alhamdulillah, insya Allah, subhanallah, masya Allah, Allah SWT, dan sebagainya.”
Satu kata saja, buat para eksekutif muda maniak seks itu. Petualangan seks Anda tidak akan menyakiti, selain diri Anda sendiri dan orang-orang sejenis Anda. Semakin banyak reputasi Anda di dunia kelam, semakin hebat “tombak sanksi” yang menancap di dada Anda. Semakin jauh Anda teruskan petualangan binatang Anda, maka Anda akan mendapati hukuman dari sisi Allah yang semakin sengit dan pedih.
Kemudian ada lagi, tingkah laki-laki dewasa yang senang selingkuh. Usia sudah paroh baya, punya isteri, anak-anak semakin besar, tetapi suka selingkuh. Bukan hanya selingkuh, mereka juga suka “makan daun muda” di kedai-kedai pelacuran. Katanya, komunitas “Om-Om” ini memiliki seni bermain cinta yang hebat. Maklum, dia sudah punya isteri, banyak berlatih dengan isteri legalnya di rumah.
Tetapi apalah artinya seks yang dia lakukan? Dia menumpahkan cairan spermanya di atas kemaluan yang tidak sah untuk disentuh. Jangankan disentuh, didekati saja tidak boleh, sebelum legal menjadi isterinya. Apa artinya dia mendapatkan kepuasan di atas kehormatan yang haram? Ini hanya omong kosong. Mungkin, laki-laki bejat dan terkutuk seperti itu bisa merasakan kenikmatan seks tertentu. Tetapi nikmat itu tidak legal alias haram. Di hati kecilnya pasti ada penolakan terhadap aktivitas seks ilegal itu. Itu pasti. Nurani manusia tidak bisa dibohongi.
Ketika seorang laki-laki terkutuk, tukang selingkuh, sedang ngangkangi tubuh wanita yang tidak halal baginya, seharusnya dia segera bertanya pada dirinya sendiri: “Bagaimana kalau anak perempuanku dikangkangi laki-laki haram seperti ini? Bagaimana kalau isteriku sendiri dikangkangi laki-laki haram seperti ini? Bagaimana kalau adik-adik perempuanku dikangkangi laki-laki haram seperti ini?” Dengan bertanya seperti itu, semoga muncul kesadaran dari diri laki-laki bejat itu untuk bertaubat kepada Allah.
Kalau dia malah mengatakan, “Gue tak peduli, apapun yang terjadi pada anak perempuan gue, isteri gue, adik-adik gue. Biar saja, mereka melakukan zina seperti gue juga. Ya, kita sama-sama bejatnye.” Kalau dia sudah seperti itu, maka jelas dirinya adalah syaitan terkutuk. Orang seperti itu perlu didoakan agar segera celaka secelaka-celakanya, mampus semampus-mampusnya, hancur sehancur-hancurnya. Dan biasanya, ketika kebobrokan moral itu sudah memuncak seperti syaitan, pertanda hukuman akhir Allah segera tiba. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
Semakin jauh seorang pemuda atau pemudi melangkah menyusuri dunia seks bebas, semakin perih siksaan hidup yang akan menimpa dirinya. Bahkan suatu ketika, Allah akan mencabut nikmat seks itu sama sekali. Bahkan suatu saat, Allah akan menyingkap kehormatannya, sehingga dia mati dalam keadaan tercampakkan. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
Ingatlah saudaraku, segala sesuatu ada seni-nya. Kunci seni seksual adalah PRIVACY. Semakin tertutup urusan seks Anda, tentu saja seks yang legal, itu semakin baik. Semakin terbuka seks Anda, apalagi sampai menerjuni seks bebas, maka Anda tidak akan mendapatkan seni seks sama sekali.
Semoga tulisan ini ada manfaatnya, bagiku, bagi keluargaku, bagi pembaca semua, serta kaum Muslimin. Semoga Allah menyelamatkan kita dan keturunan kita dari fitnah seks bebas, kemudian Dia memberikan kepada kita sebaik-baik kenikmatan dalam urusan seks. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
AMW.
Tuesday, April 20, 2010
Melawan Hegemoni ITB
Inti tulisan ini adalah mengajak semua anak bangsa untuk terus berprestasi tanpa batasan kampus ataupun Negara, melainkan dunia... saya tambahkan, mari berprestasi dunia dan akhirat. Jangan hanya mengukur kesuksesan dari keberhasilan materi, tapi juga keberhasilan moral, insya Allah kebahagiaan dunia dan akhirat akan didapat.
From: http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=6781
Melawan Hegemoni ITB
12 April 2010 16:49:01
Malam itu, saya pergi berselancar bersama Eyang Google. Mata saya terbelalak melihat kata-kata berbunyi ”Melawan Hegemoni ITB” tercecer di milist alumni ITB. Padahal niat awal hanya mencari kabar tentang Dies Emas ITB setahun lalu (nama ITB resmi dipakai 2 Maret 1959). Karena penasaran, saya malah menelusuri perdebatan ini, tanpa suatu tendensi apapun. Sampai pertanyaan, siapa kampus teknik terbaik di Indonesia? Kakaknya atau adiknya?
Kampus ITS, ITS Online - Soal SNMPTN baru saja dibagikan. Mata Andi melirik Tono. “No…Pilih apa nih, B atau S?”. “B aja. B itu pasti Bahagia”. “Kalau S?”. “S itu Sengsara Ndi. ” sekejap gigi Tono berderet tampil di bawah bibirnya yang mengembang. Sementara alis Andi mengerut keheranan. Cita-cita keduanya memang jadi insinyur. Setahu mereka, hanya ada dua sekolah yang secara jantan bisa memberi mimpi itu. Tidak sedikit anak seperti Andi yang selalu bingung memilih kampus tambatan hatinya. Akhirnya image-lah yang menuntun mereka menempatkan B dulu baru S. Benar salah?
Saat ini, hampir tiap kampus memiliki jurusan teknik, kecuali Akademi Kebidanan. Tapi kalau bicara masalah dedengkotnya teknik, hanya ada dua: ITB dan ITS. Nama besar keduanya jadi rebutan anak-anak SMA sederajat. ITB terkenal dengan nama harum alumninya, salah satunya Ir Soekarno, sedangkan ITS terkenal dengan industri maritim dan dunia robotikanya.
Sayang, di mata masyarakat luas, keberadaan ITS masih di bawah bayang-bayang saudara tuanya. Seperti bayang-bayang klub sepak bola Manchester United di atas Manchester City. Wajar saja, sejak SNMPTN masih bernama UMPTN sekitar 20 tahun lalu, nama ITB tak pernah bergeser dari posisi puncak nilai rata-rata terbaik untuk kelompok IPA. ITB tetap paling favorit sedang ITS hanya mampu menggoda siswa SMA sederajat di wilayah Jawa Timur dan sebagian Indonesia Timur. Bahkan di wilayah barat, nama ITS hanya terdengar sayup-sayup.
Terbukti, tiap kali saya pulang kampung ke Depok, Jawa Barat, banyak tetangga yang bilang, “ITS ya, swasta atau negeri tuh?”. Dalam hati saya membalas,”Swasta dari Hongkong!!!”. “Wah…hebat kamu ya bisa kuliah di Hongkong.” ternyata ia bisa baca kata hati saya. Lain tetangga, lain pula tusukan teman lama saya yang polosnya luar biasa. ”Kuliah dimana sekarang?” tanyanya. “Ehm…jadi nggak enak nih nyebut-nya,” gaya saya agak sombong. “ITS dong bro!” jawab saya bersemangat. “Wah…ITS, pinter juga lu bro! Di Semarang nge-kos apa sama saudara?”. Yah…
***
Sekali lagi, tanpa tendensi dan tiap fakta di bawah ini tak bisa digeneralisasi. Saya juga tak mau disebut seperti kata pepatah: istri tetangga lebih cantik dari istri sendiri. Oh salah, rumput tetangga maksudnya. Saya hanya pengamat dari perdebatan everything about ITS dan ITB di dunia maya. Saya laporkan di sini dengan kerendahan hati, semoga kita semakin terpacu.
Percaya Diri
Banyak blog (malah dari anak ITB sendiri) menyimpulkan bahwa sombong adalah sifat yang paling kentara dari anak ITB. Kalau saya menilainya bukan sombong tapi percaya diri. Simpulan lain, anak ITS malah down ketika berhadapan dengan nama besar UI, ITB, dan UGM. Pada poin terakhir ini, 80 % saya sepakat. Entah mengapa, aura mereka begitu menyilaukan.
Saya punya teman SMA di ITB, ketika sekelas di SMA dulu levelnya sepadan lah dengan saya. Kelas terbang menengah. Artinya rangking selalu melayang, bodoh tidak, pintar apalagi. Tapi ketika terakhir bertemu, wah…berubah! Kepercayaan dirinya menanjak drastis terlihat dari caranya berbicara. Katanya, menyandang gelar “anak ITB” membuatnya percaya diri. Padahal dulu, kalau ada tugas presentasi bawaannya izin ke belakang terus.
Ada sebuah idiom unik di sebuah blog,”Kalau orang ITB mikirnya negara, kalau orang ITS mikirnya bagaimana mengalahkan ITB,”. “Yah…kalau ITS mah nggak level,” tambahnya. Kalau ITS masih coba melangkahi ITB. Kami (ITB), tulisnya, sudah berpikir bagaimana bersaing dengan Todai, Kyodai, Beijing, Nanyang, NUS, Chulalongkorn dkk. “Lewatin dulu tuh UI sama UGM!” lanjutnya.
Saya sama sekali tidak marah. Malah saya bergumam,”Oh iya, kenapa tidak berpikir sejauh itu?”. Kalau sparring partner kita Tokyo Daigaku bahkan MIT, mungkin kita bisa lari lebih cepat. Mudah-mudahan saya sedang tidak bermimpi.
Contoh lain adalah masalah gaji. Di banyak forum diskusi dunia maya, banyak cerita kalau anak ITS ketika ditanya tentang gaji oleh interviewer, menjawab dengan malu-malu,”Terserah Bapak saja,” . Lantas kemudian dibalas Sang HRD “Di bawah UMR ya?”. Dalam hati saya mencandai, “Oh iya Pak, tidak apa-apa, yang penting bisa makan. Ngomong-ngomong UMR itu apa Pak?”
Beberapa posting menyebut bahwa fresh graduate ITB terkenal berani pasang tarif tinggi. Benar atau tidak tak jadi masalah. Bagi saya bukan masalah uangnya, tapi keyakinannya. Seperti beberapa ekspatriat di Indonesia. Berapa persen sih dari mereka yang punya ”kemampuan sebenarnya”. Kadang malah hanya menang penampilan, percaya diri, dan bahasa Inggris cas-cis-cus.
Lulusan bermutu ibarat Mercy SL Class. Dua milyar atau sebanding dengan dua Alphard pun jadi impas untuk mobil dengan spesifikasi seperti itu. Nah, anak ITS bisa kasih harga bersaing seperti anak ITB. Kalau cocok, membayar berapa pun perusahaan mau. Usut punya usut, beberapa survey top university juga melakukan penilaian terhadap “harga jual” fresh graduate dalam menentukan world rank.
Apresiasi
Saya membaca dua tulisan tentang perkembangan robot ITB di website ITB. Sangat apresiatif. Walaupun seumur hidupnya tak pernah mampu mengalahkan PENS-ITS, mereka punya tekad besar dan dukungan besar untuk maju. Namun di beberapa blog, terpuruknya ITB di bidang robotika jadi bulan-bulanan civitasnya. Dari kritik sampai hujatan, lengkap. Maklum, Robot sudah seperti lambang supremasi anak teknik. Salutnya, walau ada beberapa yang tetap tak mau mengakui dengan menunjukkan prestasi ITB di bidang lain, tapi masih lebih banyak yang bilang,”Kita harus belajar dari mereka,”.
Saat saya main ke UI, waktu itu UI bikin baliho besar ucapan selamat atas masuknya UI di peringkat 250 besar world’s top university. Saya hanya membayangkan sambil tersenyum, itu baliho bisa sebesar apa ya kalau UI peringkat satu universitas terbaik sedunia-akhirat.
Penghormatan yang mungkin kurang dari diri kita. Banyak mahasiswa yang mendapat juara “cuma diambil pialanya saja”. Padahal berapa sih ongkos bikin spanduk untuk membuat ucapan selamat. Bunyi “Selamat kepada Tono atas Juara bla bla bla” itu sudah cukup. Si pemilik nama yang dipampang di sudut jalan itu wes bangganya minta ampun.
Kurang apresiasi atau memang tak ada yang berprestasi, saya tidak tahu. Saya jadi ingat kawan saya di salah satu organisasi yang sering lomba ke luar negeri. Ia mengeluh,”Kalau kita sukses saja, baru dibangga-banggakan. Tapi giliran dimintai bantuan (moril atau materil) pada ngilang semua,”. Ya, mahasiswa butuh apresiasi atas tiap ukir prestasi mereka.
Bukan hanya satu, saya sering dengar banyak mahasiswa ITS baik yang mewakili organisasi ataupun pribadi, ketika lomba pakai kantong sendiri dengan segala keterbatasannya. Tapi ketika pulang bawa piala dianggap usaha bersama satu ITS. Istilah kebahasaannya “Totem Pro Parte”.
Saya yakin sekali, sebenarnya segmen profil dalam website ITS dapat terus di-update. Namun terkadang, prestasi tersebut sampai ke meja redaksi hanya dari mulut ke mulut. Sedangkan sangat tidak mungkin bagi 12 reporter ITS Online untuk menanyakan satu per satu ke jurusan, siapa civitas yang berprestasi minggu ini.
Masalah jumlah doktor dan profesor juga jadi perdebatan. Kata mereka dalam forum, jumlah doktor pengaruh pada kualitas pengajaran. ITB masih menang jauh dari ITS. Dari 1056 dosen, ITB punya 800 doktor. Sedangkan dari data Laporan Rektor ITS, sampai Oktober 2008 (maaf kurang update) dosen ITS yang bergelar doktor hanya 200 dari 1125 orang. Belum lagi melihat produktivitas ITB dalam jurnal ilmiah internasional. Kurun Juni 2009, ITB masih peringkat teratas, bahkan di atas LIPI. Sedangkan nama ITS belum nongol di lima besar se-Indonesia versi Scopus.
Beberapa tahun lalu, seorang pejabat ITS pernah mengeluh pada media lokal kalau ITS susah menambah doktor dan profesornya karena kurangnya motivasi dan sibuk “ngantor” di luar. Tapi sekarang (mungkin) beda, ITS sedang produktif menghasilkan profesor baru. Para dosen juga “dipaksa” jadi doktor, kalau tidak bisa dibilang terpaksa karena malu dosen-dosen muda sekarang sudah banyak yang doktor. Sekali lagi, motivasi dan apresiasi.
Dr Nieuwenhuis berkata “Suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkurban untuk keperluan bangsanya,”. Saya mengartikannya sebagai sosok guru yang tulus mengembangkan ilmu untuk muridnya. Melalui muridnya itulah bangsa ini maju. Walaupun guru itu yang akhirnya menjadi korban dengan kesederhanaannya.
Pola pikir terbuka
Walaupun (katanya) sombong, alumni ITB secara terbuka ramai mengkritik almamaternya sendiri. Lihat milis dan blog bertema ITB. Terkadang kritiknya pedas, sehingga debat kusir sering terjadi di dunia maya. Uniknya, pemikiran terbuka dan perdebatan itu berjalan konstruktif.
Mereka juga membahas guyonan Jusuf Kalla saat memberi pidato saat Dies Emas ITB 2009 kemarin. “Kalau negeri ini gagal, maka ITB harus bertanggung jawab,”. Argumen Kalla waktu itu karena ITB menempatkan tujuh alumninya di kabinet SBY-JK. Cukup logis, apalagi dua orang ITB juga pernah meraih kursi RI 1. Hati saya nyeletuk, untung ITS cuma taruh Pak Nuh.
Termasuk pola pikir ”Saya harus kerja jadi insinyur, karena saya lulusan ITS!” itu cukup terpatri kuat. Apa memang hukumnya wajib ketika saya lulus nanti saya harus bergaul dengan alat-alat pertukangan? Apa tidak ada pilihan lain? Jujur, terkadang hal ini menghambat pola pikir kreatif. Tapi saya sadar, saya tak boleh mengingkari ”kodrat” sebagai (nantinya) alumni institut teknologi.
Dalam beberapa blog, civitas ITB begitu bangga dengan pesebaran alumninya. Mereka bernostalgia dengan nama besar Soekarno dan Habibie. Mereka juga bercerita bagaimana apiknya Hatta Radjasa membanting setir dari Kepala BPPT menjadi Ketua Parpol lalu sekarang jadi Ketua Ikatan Alumni ITB. Atau Ahmad Bakrie dan Arifin Panigoro dengan raksasa bernama Bakrie Group dan Medco Group yang mereka rintis dari nol. Mungkin lebih mencengangkan adalah kisah hidup anak desa dari Sulawesi: Ciputra.
Tak jarang alumni ITB yang justru keluar jalur. Seperti bagaimana fasihnya seorang Fadjroel Rahman dan Rizal Ramli beretorika tentang sistem ekonomi negara. Lain hal, tentu para pecinta sastra tak lupa ketika Nirwan Dewanto mengagetkan dunia sastra Indonesia saat ia tampil di kongres kebudayaan 20 tahun silam. Atau bagaimana seorang Purwacaraka pandai menggubah partitur walau latar pendidikannya Teknik Industri.
Sebenarnya pola pikir ini harus sedikit demi sedikit tertanam. Mungkin sudah mulai tampak dalam dunia akdemik dan kemahasiswaan di ITS. Munculnya pelatihan ESQ, mata kuliah Technopreneurship, seminar-seminar softskill, dan semakin banyak mahasiswa yang cum laude dan lulus tepat waktu (walau saya tak termasuk di dalamnya) bisa jadi bukti. Geliat kegiatan mahasiswa juga mulai tampak kreatif dan tepat guna. Beberapa tahun terakhir, dari mahasiswa muncul sebuah gerakan dinamisasi untuk mendobrak jauh keluar pattern yang kolot.
Alumni
Sadar atau tidak, IKA ITS jadi panutan bagi ikatan alumni lainnya. Bahkan di milis IA ITB, IKA ITS benar-benar disanjung. Bukan sebuah khayalan, ikatan alumni bisa jadi kendaraan politik yang cukup solid dan bernilai. Hal itu yang terjadi pada Joko Kirmanto (Menteri PU) mantan Ketua KAGAMA, Sofyan Djalil (mantan Menkominfo) juga bosnya ILUNI, dan Hatta Radjasa (Menko Ekuin) adalah Ketua IA ITB.
Alumni ITB tersebut kagum dengan kedewasaan para alumni ITS. Alumni ITS, katanya, tidak ambisius dan saling sikut. Padahal Pak Nuh, saat masih Menkominfo, berpeluang besar jadi ketua. ”Apa ia nggak mau ikut jejak temannya di kabinet?” katanya. Tapi IKA ITS mampu mendorong agar Pak Nuh fokus pada amanahnya sehingga kursi Ketum jatuh ke Dwi Sutjipto, Dirut Semen Gresik, tanpa “pertumpahan darah”.
Bukan isapan jempol. Saya pernah kerja praktek di galangan. Ketika itu banyak alumni ITS (bukan banyak tapi semuanya), saya serasa hidup di rumah sendiri. Pembimbing saya sangat membantu, termasuk memudahkan saya membuat laporan. Kalau bertemu alumni ITS rasanya seperti kawan lama tak bersua.
Kekuatan alumni inilah yang sering terlupa. ITB dan UI terkenal punya jaringan yang menggurita di pemerintahan, BUMN, dan BUMS. Kesolidannya terihat dimana ketika ada alumninya yang promosi jabatan, maka semua alumni serentak mendukung. Mereka juga secara aktif menempatkan alumni terbaiknya di institusi penting itu dan merekrut juniornya untuk turut mewarnai institusi. ”Alumni ITS kelihatannya kalau sukses sendiri-sendiri,” tulis dalam milis itu. Belum lagi tentang loyalitas mereka pada almamater.
Alumni ITS? Diam-diam menghanyutkan. Baru-baru ini terbit buku berjudul Inspire to Succes: Menuju Kemandirian Bangsa Ide 100 tokoh alumni ITS. Entrepreneur, Pejabat BUMN/BUMS, Pemerintahan, Pendidikan, LSM/Organisasi, dan peneliti. Pucuk-pucuk pimpinan dan posisi strategis itu sudah pernah kita pegang. Bahkan tak sedikit, alumni ITS yang keluar jalur dan sukses. Walau tak sepopuler alumni ITB, nyatanya alumni ITS juga tak bisa dipandang remeh.
Semua poin tadi adalah sedikit perbandingan saja. Masing-masing punya karakter dan nilai positif. Agar tak tergelincir, maka belajarlah merunduk seperti padi. ITB dan ITS memang kampus teknik terbaik, tapi baru di kandang sendiri. Ketika di Asia apalagi dunia, nama keduanya masih ”di bawah garis kemiskinan”. Bagi saya, lulusan apa pun kita atau bahkan tak pernah mencicipi bangku kuliah sekalipun, akan lebih bernilai ketika kita mampu berkontribusi bagi masyarakat luas di sekitar kita. Dengan cara apapun.
”Dik, Kakak beri kamu sebungkus hadiah untuk ulang tahunmu November besok,”.
”Jangan Kak. Beri saja hadiah itu pada Ibu. Dialah yang berjasa sampai kita berumur 50,”
”Sekarang Ibu mana?”
”Itu...” Sang Adik menunjuk gubuk-gubuk reot di balik kemegahan gedung berteknologi tinggi yang dibangun para insinyur cerdas.
Bahtiar Rifai Septiansyah
Mahasiswa Teknik Perkapalan
